Behaviour Flexibility

Ambillah lima sendok makan garam, kemudian masukkan seluruhnya ke dalam sebuah gelas. Isi gelas itu dengan air, tapi jangan sampai penuh. Aduklah. Setelah garam larut seluruhnya dalam air, celupkan jari telunjuk anda. Tanpa harus menunggu lama, arahkan jari telunjuk itu ke lidah anda. Apa rasanya?

Asin? So pasti.

Coba ambil lima sendok makan garam, lalu masukkan ke dalam sebuah ember. isilah ember tersebut dengan air. Aduk sebentar sampai garamnya larut seluruhnya. Celupkan kembali jari telunjuk anda, dan rasakan kembali. Asinkah? MUngkin masih asin, tidak seasin percobaan pertama.

Berikutnya, coba bawa air dalam gelas dan air dalam ember ke sebuah kolam renang. Campurkan seluruh air itu dengan air di kolam renang. Apa rasanya? Tidak ada sedikitpun rasa asin, sekalipun ke dalam kolam renang dimasukkan 10 sendok makan garam yang sudah dilarutkan.

Percobaan sederhana itu menjelaskan sebuah fenomena yang dikenal sebagai kelenturan perilaku (behaviour flexibility) . Percobaan sederhana ini menjawab berbagai pertanyaan seperti ini :

1. Mengapa ada orang yang sukarela mengakhiri hidup dengan menggantung diri ketika patah hati atau ditolak cintanya, sedangkan di sisi lain ada orang yang menerima kondisi itu dan mencoba mencari calon lain untuk pasangan hidupnya?

2. Mengapa ada orang yang membakar pabrik bekas tempatnya bekerja karena di PHK, sementara ada orang lain yang kemudian mencari pekerjaan lain atau bahkan memulai sebuah usaha dan kemudian bisa sukses?

3. Mengapa ada kasus perkelahian atau bahkan pembunuhan gara-gara uang receh, sedangkan di sisi lain ada orang yang masih cengar-cengir ketika ditimpa kerugian milyaran rupiah?

4. Mengapa ada orang yang langsung pingsan atau meninggal gara-gara dapat undian berhadiah seratus juta rupiah, sedangkan di sisi lain ada orang yang masih mengeluh ketika bisnisnya hanya menghasilkan keuntungan seratus juta dollar?

5. Ada orang yang kebal kritik, tetapi di sisi lain ada orang yang sedikit tersinggung, golok bicara …

Masih banyak contoh lain. Dan artikel ini bukan sekedar mengumpulkan contoh.

Respon manusia terhadap suatu kejadian, bukan tergantung pada jumlah ‘garam’nya, tetapi lebih pada seberapa banyak ‘air’ yang dimilikinya. Orang-orang yang ‘air’nya sedikit, bagaikan petasan dengan sumbu pendek. Begitu sumbunya tersulut api, langsung meledak. Dapat cobaan sedikit saja, putus asa. Dapat sedikit kesulitan, mengeluh. Ada sedikit halangan, ngomel. Sedikit tersinggung, golok bicara. Mereka hanya punya satu pilihan. Bakar!

Mereka yang punya ‘air’ lumayan banyak, memiliki beberapa pilihan respon. Jika diuji dengan masalah, ia punya pilihan lain selain putus asa. Ketika menghadapi kesulitan, ia punya pilihan lain selain mengeluh. Ketika menghadapi halangan, ia punya pilihan lain selain ngomel.

Jay, de *********

http://www.zainalabidin. net

Iklan
Behaviour Flexibility

Susahnya Mencari Programmer

Alaikumsalam wr wb,

Ris, susah ya nyari programmer :), sama dong dengan JADE, dan banyak juga temen2 lain yang kesulitan nyari SDM programmer yang “pas”.

Kira-kira tau nggak kenapa? Kalo mau cari jawabannya, coba lihat latar belakang kita.

Aris sebelumnya adalah programmer, saya sebelumnya programmer juga. Ketika skill meningkat, kualitas meningkat, maka kita terpikir untuk cari sampingan menjadi freelancer, dan ketika waktunya tiba, bikin deh software house…:)

Artinya…kita nggak akan nemu programmer yang betul2 bagus, yang betul2 kita pengen banget melamar dia jadi karyawan. Karena programmer yang bagus harusnya sudah bikin software house sendiri, atau sudah nyaman di perusahaan besar dengan gaji besar fasilitas lengkap waktu fleksibel, dll. Justru hati-hati kalo mau hire yang super bagus, harus yakin dengan loyalitasnya.

Lalu untuk programmer yang kualitas menengah, ini untung2an, karena biasanya sudah nyaman di perusahaan besar juga, dan tipe seperti ini udah males ngelamar, maunya dilamar atau dibajak.

Jadi tinggal sisanya nih, programmer kualitas rendah, ini bertebaran dimana2, yang udah sering dipecat dari perusahaannya, atau yang perusahaannya bangkrut (juga mungkin karena hire dia), atau yang nggak pernah lulus tes sama sekali. Dan yang model begini jelas kita nggak mau pake.

Nah, sekarang gimana solusinya ya supaya bisa dapet programmer yang bagus?

JADE sendiri mengalami kesulitan untuk mendapatkan programmer yang “pas”, saya belum pernah menginterview secara langsung programmer saya, karena sudah ada software manager yang menjalankan itu, saya tinggal approve/reject aja.

Tapi gara2 email Aris ini, saya jadi mikirin cara untuk itu (dan email ini juga akan saya forward ke software manager JADE).

1. Coba pikirkan kemana programmer2 yang haus ilmu itu berkumpul? apakah mereka sering ikut konferensi? terus milis apa yang mereka ikuti? atau mungkin ada komunitasnya? terus situs2 apa yang paling sering dikunjungi (mudah2an jangan situs porno, ntar aktif nyari gambar porno kayak mr kermit), jadi pelajari kebiasaan programmer yang selalu pengen belajar.

Saya sering lho dapet undangan dari Microsoft atau dari komunitas IT yang mengadakan workshop atau seminar produk tertentu, jarang dateng sih …:) lagian kalo nawarin kerja juga saya nggak bakalan mau hahahaha.

Nah, pastinya workshop atau seminar itu dihadiri oleh programmer2 windows atau linux kan, coba ngumpul, ajak ngobrol, minum kopi, kasih pujian (kamu jago banget ya, ganteng lagi..-> yang ini becanda, ntar dikira hombreng), terus, tanya deh kerja dimana, enak nggak kerja disitu, dan akhirnya tawarin, kantorku lebih bagus lho jenjang karirnya, kompensasi komisi project, atau kesehatan, fasilitas mobil, dll. Gitu, itu yang pertama.

2. Pasang lowongan di kampus2, terutama yang terkenal dengan lulusan programmernya, seperti Binus misalnya. Lebih baik dapet fresh graduate yang mudah dibina, diarahkan, dan kemauan belajarnya masih kuat, daripada dapet yang pengalaman tapi sok tau (udah sering dapet begitu).

Keuntungan lainnya, tentu saja lebih murah 🙂

3. Minta tolong sama staf programmer yang ada sekarang. Biasanya programmer bagus yang kita miliki sekarang, pastinya tau apa kualifikasi yang kita butuhkan dan siapa temannya yang meet the qualification. Tapi ini langkah terakhir, jangan dijadikan langkah pertama, karena bisa jadi direcommend hanya karena teman dekat si programmer (walaupun nggak bagus). Kita sendiri sama temen deket juga begitu kan ?

Mungkin ada yang mau menambahkan lagi soal SDM?

Thanks & Best Regards,

Ade Aan Wirama

Susahnya Mencari Programmer