Kembali Ke Persimpangan Jalan

Status pekerjaanku sekarang ini masih belum jelas. Apakah sebagai TDA atau TDB. Karena satu tahun belakangan ini aku mulai kerja sebagai freelancer, tepatnya bulan April 2007. Apa Freelancer termasuk kategori TDA kah ?

Anyway, akhir bulan februari ini kontrakku sebagai freelance habis. Sampailah saya disebuah persimpangan jalan, mau kemana langkah saya selanjutnya? Disatu arah ada tawaran sebagai TDB di perusahaan telekomunikasi berbasis CDMA (Smart) atau saya sebut saja jalan TDB.

Sedangkan di arah yang berbeda ada pula beberapa lead project IT yang sedang berjalan insya’allah jalan ini bisa menuju ke TDA atau saya sebut jalan TDA. Saya coba berpikir dengan hati (buku: Quantum Ikhlas) dan setiap kali hal yang saya rasakan adalah kebahagiaan ketika saya memikirkan jalan TDA. Bahagia ketika saya mengantar putri tercinta ke sekolah, bahagia ketika disambut keceriaan saat ku jemput anakku pulang dari sekolah, keceriaan saat bermain di rumah, dan masih banyak lagi. Sebaliknya saya gak berani memikirkannya, karena saya sudah tau persis seperti apa rasanya. Macet dijalan, kepanasan, kehujanan, jatuh dari motor, nabrak motor orang, dimarahin istri karena pulang telat 😦 wah pokoknya baru ngebayangin aja udah stress.

Tapi rasa bimbang dan ragu masih menghantui diri saya, apa karena zona nyaman yang selama ini membuat saya berat untuk meninggalkannya ? Sementara kebutuhan hidup yang makin tinggi, membiayai kuliah keponakan yang juga tinggal bersama kami, belum lagi tagihan-tagihan dari hutang konsumtif.  Sehingga pilihan yang terbayang paling gampang saat ini hanya menjadi TDB. Douugh… (*Homer mode: ON*)

Ya Allah… sampai sejauh ini hanya itulah harapan terbaik saya. Tapi rasanya beraaaat banget mengambil jalan TDB. Virus-virus yang masih membekas sejak ditinggal Milad TDA 2 yang lalu, kok hati ini rasanya tidak rela kalau saya harus kembali jadi TDB. Aku coba konsultasikan dengan financial manager saya (istri tercinta), “Ya sudah pah pilihlah apa kata hati kecil kamu…”.

Bismillah … semoga pilihan TDB ku ini hanya sebagai batu loncatan yang lebih besar lagi menuju TDA. Ya Allah jika Engkau ridha aku sebagai TDB mohon dimudahkan, juga sebaliknya jika Engkau lebih ridha aku sebagai TDA mohon dimudahkan pula.. demikian doaku dalam hati.

Soo… kesimpulannya, saya sendiri masih belum berani memutuskan apa-apa sampai aku dapat melihat lebih jelas lagi ada apa di ujung kedua jalan tadi. Seolah kedua jalan tersebut masih terselimuti kabut ketidak pastian sehingga aku sulit untuk memutuskan.

Yah… sementara ini aku menunggu sampai kabut itu benar-benar hilang dan bisa melihat lebih jelas lagi ke dua jalan tsb.

Abi Naomi

NB:
– Alahmdulillah akhirnya aku dipanggil Abi oleh Princess Naomi bukan papah lagi.
Bangga banget rasanya, biarpun sepele tapi ini sebuah kemajuan bagiku.

Kembali Ke Persimpangan Jalan