Category: Renungan


Sebuah catatan dari seorang rekan di komunitas TDA, tentang bagaimana menyikapi kegagalan sebagai pengusaha. Semoga bermanfaat dan mencerahkan bagi pembaca yang ingin maupun sudah jadi pengusaha. Selamat membaca.

———-

MUGG

Akhirnya terpaksa menulis lagi..
karena bertubi-tubi mendapat pertanyaan/curhatan yang sama, hampir setiap hari..
jadi biar jawabnya mudah, supaya dirujuk ke tulisan ini..

begini kira-kira
Ny X :
“Dzan, gw capek nih dengeran cerita salah seorang member dari kota S. Tiap hari curhat, gara-gara udah resign tapi bisnisnya ga jalan-jalan alias bangkrut. Sekarang malah keluarganya terancam perceraian. Orang itu agak nyalahin komunitas yang komporin resign tanpa diberitahu resiko nya. Harusnya kasitau donk resiko resign dll, jangan cuma yang enaknya doank yang di share di komunitas. Dan banyak lho member yg bernasib sama.. gimana nih?”

Mr.Y :
“Bro, ada yang lagi curhat nih. teman saya frustasi. sudah resign trus bisnis bangkrut. dia bener-bener frustasi. Sekarang dia menghidupi keluarganya dengan “jatah” dari mertuanya. Gimana nih?”

Mr. Z
“utang jadi banyak banget..Gw nyerah nih bro.. gw mau jadi karyawan lagi. tuntutan hidup makin berat, gw butuh kepastian penghasilan…”

Menghela nafas sebentar…
Bingung juga, mulai darimana ya njelasin nya View full article »

Rekonstruksi Sya’labah

Gembala Kambing

By. Zainal Abidin @ zainalabidin.net

Dalam sejarah kehidupan Rasulullah, ada penggalan cerita tentang Sya’labah bin Hathim. Diceritakan bahwa Sya’labah adalah orang yang rajin ibadah, tetapi kurang beruntung. Ia miskin. Begitu miskinnya, sampai-sampai setelah shalat berjamaah, ia harus buru-buru kembali ke rumah tanpa berzikir, mengingat perangkat shalatnya juga akan dipakai istrinya.

Berulang-kali ia bertemu Rasulullah dan minta didoakan agar diangkat dari kemiskinan. Singkat cerita, Rasulullah pun mendoakannya. “Ya Allah, karuniakanlah kekayaan kepada Sya’labah.”

Dikisahkan, Sya’labah mendapat bantuan sepasang domba, yang kemudian berkembang-biak dan menjadi banyak. Dan domba-domba itu lah yang mengangkat status sosial Sya’labah. Ia tidak miskin lagi. Sampai di sini, saya punya pertanyaan.

Apakah ternak Sya’labah berkembang cepat karena doa Rasulullah?

Dari sisi spiritual, saya sangat yakin bahwa doa Rasulullah pasti dikabulkan. It’s a matter of time. Hanya soal waktu. Tentu saja dengan satu syarat. Saat ini hampir tidak ada lagi keajaiban. Orang yang didoakan juga harus berusaha. Allah pasti berikan harta kepada Sya’labah, melalui jalan-jalan yang wajar. Tidak mungkin dengan mengirimkan sekarung emas ke rumah Sya’labah.

Jalan kaya Sya’labah adalah memelihara domba. Jalan ini pun harus dilaluinya dengan cara-cara yang wajar. Tidak melampaui hukum-hukum alam. Misalnya, domba betina baru bisa bunting paling cepat umur 12 bulan.
Sebelum beranak, harus mengalami masa bunting sekitar 145 – 160 hari. Anak yang dihasilkan sekali kelahiran maksimal 2 ekor.

Ini berarti, selain doa Rasul, Sya’labah kaya karena kegigihannya. Setiap hari ia mengurusi ternaknya. Diberikannya kandang buat domba-dombanya. Di siang hari, ia menuntun peliharaannya ke padang penggembalaan. Kalau
dombanya sakit, diobati. Dombanya tidak beranak setahun tiga kali, atau sekali beranak tidak sekaligus enam ekor. Ketika induk dombanya beranak pertama kali, anak domba dipelihara terus sampai dewasa. Tidak langsung
dijual untuk dinikmati hasil penjualannya. Ini terus dilakukan sampai beranak-pinak. Semuanya wajar dan masuk akal.

Apa yang ingin saya katakan dengan rekonstruksi legenda Sya’labah? Tidak ada jalan pintas. Untuk dapatkan sesuatu, seseorang harus melalui prosesnya. Bahkan untuk seseorang yang sudah didoakan Rasulullah. Apalagi kita?

http://www.sitepoint.com/blogs/2009/11/20/how-to-open-your-mind-to-thinking-big/
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.